Petani Muda di Bintan Kembangkan Kopi Robusta, Bidik Pasar Lokal hingga Ekspor

Kusmayadi di pembibitan kopi miliknya saat di wawancara oleh awak media _foto : OK

BINTAN (OK) – Semangat generasi muda untuk mengembangkan sektor perkebunan mulai terlihat di Kabupaten Bintan. Salah satunya ditunjukkan oleh Kusmayadi, seorang petani muda asal Desa Teluk Sasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam, yang mulai merintis budidaya kopi robusta sebagai peluang usaha baru di daerah tersebut.


Pria yang akrab disapa Maskus itu saat ini tengah fokus melakukan pembibitan kopi robusta menggunakan klon unggul jenis Bagio. Proses pembibitan telah berjalan selama kurang lebih tiga bulan dan diharapkan mampu menghasilkan tanaman kopi dengan produktivitas tinggi.


Maskus menjelaskan, bibit kopi yang telah melewati tahap penyemaian akan dipindahkan terlebih dahulu ke polybag sebelum ditanam di lahan permanen yang telah disiapkan.


“Setelah masa semai selesai, bibit dipindahkan ke polybag untuk proses pertumbuhan awal sebelum masuk ke lahan utama,” ujarnya saat ditemui di lokasi pembibitan.


Dalam pengelolaan kebunnya, Maskus menerapkan metode penanaman modern dengan sistem baris seperti yang diterapkan di sejumlah perkebunan kopi di Brasil. Jarak tanam dibuat sekitar 2,5 meter x 1 meter agar tanaman dapat tumbuh optimal dan memaksimalkan hasil panen.


Dengan pola tersebut, satu hektare lahan diperkirakan mampu menampung hingga 4.000 batang kopi robusta. Ia optimistis produktivitas kebun dapat mencapai sekitar empat ton per hektare ketika tanaman memasuki masa panen.


Menurutnya, penggunaan bibit unggul menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan hasil produksi. Selain memiliki ukuran dompol buah yang lebih besar, tanaman kopi robusta tersebut juga dinilai memiliki masa produktif yang relatif cepat, yakni mulai berbuah dalam kurun waktu sekitar dua tahun.


Maskus menilai peluang pengembangan kopi robusta di wilayah Kepulauan Riau cukup menjanjikan. Tingginya budaya konsumsi kopi di tengah masyarakat menjadi salah satu alasan kuat untuk mendorong produksi lokal.


“Hampir di setiap daerah ada kedai kopi, tetapi pasokan biji kopi masih banyak didatangkan dari luar daerah. Padahal lahan di sini cukup potensial untuk dikembangkan,” katanya.


Ia juga melihat peluang pasar yang lebih luas, termasuk kemungkinan ekspor ke negara tetangga seperti Singapore dan Malaysia, mengingat posisi geografis Bintan yang cukup strategis.

Kusmayadi
Selain berpotensi meningkatkan pendapatan petani, pengembangan komoditas kopi dinilai mampu membuka lapangan kerja baru serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.


Saat ini, harga green bean kopi robusta di pasaran berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.


“Kalau dikelola dengan baik, kopi bisa menjadi salah satu komoditas andalan baru bagi masyarakat Bintan,” tutupnya.

Previous Post Next Post