Peringatan Maulid di Mushola Miftahul Jannah, Ustaz Kusmayadi Ajak Umat Lebih Mengenal Rasulullah SAW
BINTAN (OK) – Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW digelar di Mushola Miftahul Jannah, Perumahan BMI, Teluk Lobam, SKL, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Sabtu, 5 September 2026, bertepatan dengan 23 Rabiulawal 1448 Hijriah.
Dalam kegiatan tersebut, Ustaz Kusmayadi menyampaikan tausiyah dengan tema “Pelajaran dari Kelahiran Rasulullah: Apakah Kita Mengenal Nabi Kita?”
Dalam ceramahnya, Ustaz Kusmayadi mengajak umat Islam untuk tidak hanya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW secara seremonial, tetapi juga benar-benar mengenal sosok Rasulullah SAW, memahami perjuangannya, serta menjadikan akhlak dan kehidupannya sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengangkat firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 146, yang menjelaskan bahwa orang-orang yang telah diberikan kitab sebelumnya mengenal Nabi Muhammad SAW sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.
Menurutnya, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa pengetahuan tentang Rasulullah SAW merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan, dalam sejarah kenabian, tanda-tanda kedatangan Rasulullah SAW telah disebutkan dalam kitab-kitab sebelumnya.
Ustaz Kusmayadi juga mengutip QS. Ash-Shaff ayat 6, mengenai perkataan Nabi Isa AS kepada Bani Israil tentang akan datangnya seorang utusan Allah setelahnya yang bernama Ahmad, yang merujuk kepada Nabi Muhammad SAW.
Umat Diminta Lebih Mengenal Rasulullah
Dalam tausiyahnya, Ustaz Kusmayadi menyoroti persoalan umat Islam yang menurutnya masih banyak belum mengenal Rasulullah SAW secara mendalam.
Ia menjelaskan, kurangnya pemahaman terhadap kehidupan dan akhlak Rasulullah dapat berdampak terhadap perilaku umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
“Permasalahan umat adalah umat tidak terlalu mengenal Rasulullah. Dampaknya, perilaku umat Islam banyak yang tidak sesuai dengan akhlak Rasulullah SAW karena banyak yang tidak mengenal nabinya sendiri,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.
Karena itu, momentum Maulid Nabi dinilai seharusnya menjadi kesempatan bagi umat untuk kembali mempelajari sejarah kehidupan, perjuangan, sifat, akhlak dan kepemimpinan Rasulullah SAW.
Rasulullah Lahir di Tengah Kegelapan Jahiliyah
Lebih lanjut, Ustaz Kusmayadi membahas kondisi dunia ketika Rasulullah SAW dilahirkan. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW lahir di tengah kondisi jahiliyah dan berada pada masa ketika peradaban manusia mengalami berbagai bentuk kerusakan moral dan sosial.
Dalam pembahasannya, ia juga menjelaskan mengenai terpilihnya bangsa Arab sebagai tempat lahirnya Rasul terakhir.
Kondisi geografis Jazirah Arab yang sebagian besar berupa wilayah padang pasir dan relatif terisolasi dari pusat-pusat peradaban besar pada masa itu, seperti Romawi, Persia dan Yunani, disebut menjadi salah satu konteks sejarah yang perlu dipahami dalam melihat kelahiran Rasulullah SAW.
Nasab Rasulullah SAW dan Kehidupan yang Penuh Tempaan
Ustaz Kusmayadi kemudian menjelaskan tentang nasab Nabi Muhammad SAW yang berasal dari Bani Hasyim, salah satu kabilah terhormat di Makkah yang memiliki keterkaitan dengan pelayanan terhadap Ka'bah.
Rasulullah SAW dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya bernama Abdullah, sedangkan ibunya bernama Aminah.
Menurutnya, kehidupan Rasulullah sejak kecil juga dipenuhi berbagai tempaan. Pada usia sekitar enam tahun, Rasulullah SAW kehilangan ibunya, kemudian pada usia sekitar delapan tahun kehilangan kakeknya, Abdul Muthalib.
Kondisi tersebut, menurut Ustaz Kusmayadi, menjadi bagian dari perjalanan kehidupan yang membentuk pribadi Rasulullah SAW menjadi sosok yang kuat, sabar, rendah hati, dekat dengan kaum fakir miskin dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
“Allah SWT mendidik dengan tempaan keprihatinan agar memiliki mental yang kuat, sebagai syarat untuk kepemimpinan dan kenabian,” jelasnya dalam materi kajian.
Diasuh Halimah As-Sa'diyah
Dalam materi berikutnya, Ustaz Kusmayadi juga mengangkat masa kecil Rasulullah SAW ketika diasuh oleh Halimah As-Sa'diyah di lingkungan perkampungan Arab.
Menurutnya, kehidupan Rasulullah SAW di perkampungan memberikan berbagai kelebihan, termasuk dari sisi fisik dan kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Arab yang fasih.
Hal tersebut menjadi bagian dari persiapan kehidupan Rasulullah SAW sebelum menerima tugas kenabian dan menyampaikan risalah Islam kepada seluruh umat manusia.
Tahun Gajah dan Kelahiran Rasulullah SAW
Pembahasan kemudian berlanjut pada peristiwa Tahun Gajah, yaitu masa yang berkaitan dengan ekspedisi pasukan Raja Abrahah menuju Makkah dengan membawa pasukan bergajah.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Arab dan dikaitkan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Menurut Ustaz Kusmayadi, peristiwa tersebut membuat perhatian dunia tertuju kepada Ka'bah di Makkah dan menjadi salah satu penanda sejarah yang mengiringi lahirnya seorang manusia yang kelak membawa perubahan besar bagi peradaban dunia.
Rasulullah SAW Harus Menjadi Qudwah Hasanah
Pada bagian penutup, Ustaz Kusmayadi mengajak umat Islam untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai Qudwah Hasanah, atau teladan terbaik dalam kehidupan.
Menurutnya, umat Islam tidak cukup hanya mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi harus berusaha meneladani akhlak, kesabaran, kejujuran, kepedulian, kepemimpinan dan perjuangan beliau.
Ia juga menyampaikan pandangan bahwa kondisi dunia pada akhir zaman akan kembali menghadapi berbagai bentuk kegelapan moral dan krisis kemanusiaan. Karena itu, umat Islam perlu kembali kepada nilai-nilai Islam dan menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan.
Pesan tersebut menjadi inti dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Mushola Miftahul Jannah.
Peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan, tetapi mampu menjadi momentum untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus memperbaiki akhlak dan perilaku umat dalam kehidupan bermasyarakat.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Alfaqir, Kusmayadi


